Monday, August 20, 2007

Kau Dikenang Selamanya

17 Agustus.
Sejak tahun 1945 hingga detik ini,
kau menjadi hari bersejarah
Yang abadi di kenang anak bangsa ini.
Bukan itu saja, namun
kau telah tercatat dalam ensiklopedi dunia.
Karena kau,
Penghuni dunia menatap
Negeri ini,
Bangsa ini,
INDONESIA.
Menghormati
Panji Merah-Putih
Memuji
Dasar Negara-Pancasila.
Mempelajri
Bahasa Indonesia.
Hadirmu membuat
Lapangan-lapangan dibanjiri
barisan para pewaris takhta kemerdekaan negeri ini
yang tampil anggun
dengan gaun-gaun indah nasional, melantunkan
Himne Indonesia Raya,
berdiri tegak menatap angkasa,mengangkat tangan,
dan menghormati panji kemenangan,
Sembari berucap:
Merdeka!
dan berbisik di hati
penuh harapan:
DAMAI NEGERIKU dan SEJAHTERA BANGSAKU.

Gejayan-Narada 8A
Yogyakarta
17 Agustus 2007

Imaginations

Store them not in the princely home
for when they enjoy living in such splendor
and comfortable palace,
they are not willing to leave it.

Open the mansion’s gate,
let them
breath the freedom and
travel freely
to reach hearts’goals.

Carry them out
into splendid deeds
for
the virtue of mankind
or else
They will remain mare
Thoughts

Jogyakarta
August 20,2007

Tuesday, July 24, 2007

Merah Semangatmu&Putih Cintamu

Sang perkasa
Berjubahkan semagat.
Seiring munculnya pesona
surya pagi yang ramah menyapa,
Ia bangkit menyuarakan secerah harapan:
Wahai tunas muda penggerak roda hidup,

Mari!
Tanggalkan yang kusam,
yang kelam,dan yang rapuh.
Mari!
Raih dan kenakan yang baru, yang indah,
dan yang lembut selembut sutra.
Mari!
Tegoklah kedalam dan dengarlah
Suara pejuang tanah ini dahulu.
Mari!
Tolehlah kebelakang,
Lihatlah apa juang mereka.
Demi sebauh nama: Indonesia,
darah merah dibiarkan menetes.

Ya!
Kau bangga akan nama ini,
Kau bangga hidup di tanah ini,
Kau bangga menjadi anak negeri ini.
Tapi,
Apa sumbanganmu
Tuk’ pertahankan nama dan tanah ini?

Ayo, Mari Bangkit!
Sumbangkan Merah semangatmu
Serah putih cintamu,
Tuk’majunya nusa ini,
Tuk’makmurnya penghuni pertiwi ini.

Jogyakarta, 20 Mei 2007
Hari Kebangkitan Nasional.

Thursday, July 19, 2007

The Goddess of Rice

In countless of time
Here, in the central of the earth
She stands firmly
So astonishing
So beautiful
So powerful
And magnificent indeed.

Her open hands
Are always ready to cuddle.
Her secure womb is ready to give birth.
Her offspring feel secure when sit on her lap.
Yes...Yes...Yes
They are absolutely proud of her.

Previously, from time to time
Songs of praise were sung before her dignity,
Stories of her motherly love
Were broadcasted throughout entire land,
For she was the most highly adored Queen.

Currently,
The Queen is still presence before her throne,
Yet, she seems to be ignored
Her genuine love is exploited
Her splendors are annihilated
Her beloveds disregarded her.

The tears of sorrow droop
From the discarded souls
Wanting for her warm hug,
Longing for her secure womb to conceive new life,
But will it be possible?
For the womb is fully occupied by the prodigal sons

Even if life keeps on changing,
Her name will be forever exalted
Her presence will be continuously honored
For she was, she is and she will be always
The most adorable
Goddess of Rice

Jogyakarta, February
21, 2007.

Wednesday, July 4, 2007

The Praiseworthy Companion

Like the passing wind it comes
When it comes and goes
No one can tell
Like the rising sun were its presence
So bright and so warm.


With open hands and open heart
welcome it.
For it is such a precious gift
Send from heaven above.


Enter the friendship door greatfully
Journey it honestly and faithfully
For this precious moment is a unique one
Only for you both.


There will be a moment
When a new gift will be sent
To each one of you.
Claps the new one ,
Forget not the previous friends,
and feel sad not to say good bye
to the old one.

Just be thankful
for you are an aristocrate
of the friendship’s realm.


The friend has to live a new life
And so have you
Yet the living memory
Of the marvel companionship
Will be evermore abide in both souls.


Jogyakarta; June 28, 2007
World's friendship day.

Tuesday, June 26, 2007

Bukannya Lupa Berkokok


Ayam yang terlelap dalam tidurnya
Seketika terhentak bangun
Hiruk-pikuk hendak terbang
Namun tak tahu kemana hendak mengepak sayap.
Makhluk pagi yang masih bermimpi
Walau tak ingin,
Harus dan harus melekkan matanya.
Terhentak oleh bidikan ketapel,
Ia berlari mencari perlindungan.

Bidikan itu cuman sesaat
Namun pohon tempat ia bertengker
Terguncang dan tumbang,
Berserakan tak beraturan.

Di atas tanah, di antara dedaunan dan ranting-ranting
ia tergeletak, tercabik-cabik tak berdaya, namun masih bernafas.
Dibalik reruntuhan, Ia mencoba mengais-ngais
Mengumpulkan tenaga untuk terbang lagi.

Tak percaya akan pandangan matanya,
Ia mencoba mengepakkan sayapnya
Menggunakan sisa kekuatannya
Untuk terbang ke angkasa

Bukannya lupa berkokok
Namun bidikan dahsyat itu
Telah mengubah cirinya.
Alunan suaranya yang merdu di pagi buta,
Kini serupa isak tangis histeris.

Bukan saja kandang kesayangannya
Bukan saja sahabat-sahabat dekatnya
Bukan saja anak-anak kecintaannya
Namun semua, segala yang ia punya
Hanyut, lenyap tertelan badai.
Bulu sayapnya satu persatu
Terlepas meninggalkan tubuhnya
Parasnya yang gagah kini memilukan
Kedua sayapnya yang dulu kekar
Kini tak terandalkan lagi.

Yogyakarta, 27 Mei 2006

Wednesday, June 20, 2007

Mama

oleh
Maxi,Vita,Pat,Deli,Uris,Rita dan Densi Un Bria

Ketika memandang potretmu
Sejuta kenangan manis kembali mengalir
Lalu bersama Khalil Gibran berujarlah kami:
“Ibu adalah segala-galanya”.

Mama, ketika kami sedih; engkau datang menghibur
Ketika kami lelah, engkau datang menguatkan
dan ketika kami kehilangan asa,engkau datang memberi.

Engkau tumpuan harapan kami dalam derita
dan engkau kuatkan kami dalam kelelahan.
Engkau sumber cinta kasih, belas kasih dan ampunan.

Terima kasih Mama,
kami bangga dan bahagia menyapamu Mama.
Bahkan Dellyanipun telah merasakan belaian kasihmu.
Meski ia telah pergi dari sisi kita untuk selamanya.

Mama, kasihmu mahal harganya,
Kami tak sanggup membalasnya.
Semoga kasih yang telah Mamagandakan itu
Memberi kebahagiaan kini dan kelak.

Manlea, Medio Februari 1992.