Saturday, December 15, 2007

Merry Christmas and Happy New Year to You

Dawan:Tabé Natal ma Mlilé Ton Féu
Indonesia:Selamat Hari Natal
English: Merry Christmas
Slovak: Vesele Vianoce A Stastlivy Vovy Rok
Rumanian: Sarbatori vesele .
Tagalog: Maligayamg Pasko. Masaganang Bagong Taon
Esperanto: Gajan Kristnaskon
Polish: Wesolych Swiat Bozego Narodzenia or Boze Narodzenie
Portuguese: Feliz Natal
Spanish: Feliz Navidad
Japanese: Shinnen omedeto. Kurisumasu Omedeto
German: Froehliche Weihnachten
Latin: Natale hilare et Annum Faustum


Selamat Natal dan Tahun Baru



Sakit dan derita silih berganti
Entah mengapa, kekerasan merajalela dan
Lambat laun cinta dan kehidupan teranm punah
Akan menjadi apakah dunia kita nanti?
Masih adakah cinta di hatimu?
Adakah Tuhan telah dilupakan?
Tapi jangan kaulupa peristiwa penting ini.

Nyanyian muliah para malaikat didendangkan bahwa
Anak Yesus Sang Emanuel
Telah terlahir untuk membebaskan kita.
Anak manusia, pergi! Sembahlah Dia
Lihatlah! Ialah Juruselamat yang dijanjikan.

DamaiNya yang telah diberikan bagi kita,
Akan senantiasa dicurahkan dari hatiNya yang murni
Namun, adakah tempat di hati kita untuk damai itu?

Tuhan yang mulia menjadi hina seperti
Anda dan aku, manusia lemah.
Hanya kesucianNya tanpa nodalah yang membuat kita beda.
Untuk itu, mari kita belajar meneladani Dia yang sungguh
Nyata hidup ditengah-tengah kita.

Berbahagiakah hati yang percaya pada
Allah yang menyertai umatNya.
Rahmat dan berkatNya melimpah bagi kita karenanya,
Unjukkan hati penuh bakti kepadaNya.

Halilulik, 24 Desember 1998

Nyanyian Para Malaikat

Nyanyianmu yang merdu dan penuh kekuatan
Mengusik ketenangan domba-domba dari tidur mereka,
Mengagetkan para gembala yang sedang berjaga,
Dan menyadarkan dunia akan sebuah kelahiran baru.

Dengan hati girang kaudendangkan lagu merdu.
Kemuliaan bagi Allah di surga,
Dan damai di bumi bagi semua penghuninya,
Demikianlah isi pujianmu.

Kepada Sang Khalik pujian kaulambungkan
KemuliaanNya kauagungkan, dan
Kauwartakan pada dunia bahwa
Sang Juruselamat telah lahir.

Doa
Tuhan, ajarilah aku meneladani MalaikatMu
Agar seperti dia aku tahu memujiMu,
Aku tahu memulai hari baru penuh syukur,
Dan menjadi pewarta khabar gembira, amin.

Halilulik,24 Desember 1998

The Innocent Souls

The wholesome souls,
At moments of Sadness
At moments of helplessness
Try to free their selves.
The innocent soul,
Hide ones self not in the cell
Hide ones hurt not in the core
For the world love you still
Her eyes look up to you
Her ears listen to you
Her hands are open to you
Her heart sincerely cares for you
Live thy lives alone not
For the angel has heart
Generous, kind and nice
To help lift you up to heaven

Yogyakarta;
December 1, 2007
The World’s AIDS Day

The Ignorant Man

When young, fresh and strong,
The glamorous place is my palace
The crimson joy of the night is my food
The sensational perfume is my breath.

Too pity to give them up
Too early to abandon them
Too quick to disregard
Too late to repent

As time passes by,
The energy drained by germ
The body is eaten by worm
The soul dries as a desert

Even if lungs breathe life still,
Even if feet walk their way still,
Yet, like the corpse covered by
A white winding sheet,
I live my fate.

Yogyakarta;
December 1, 2007
The Worlds’ AIDS Day

Thursday, November 29, 2007

Mama’s Little Princess

The young mama with the
sound of splashing water on stones
is washing cloths at the river bank.
Occupying with her service,
pays no attention to her dear one.
The little Princess amazed by the shining
flowing water that transparently seen,
walks into it and slowly- - -slowly sinks.
The little princess with her hands
on the savoir stone cries out,
Then comes the live savior.

Yogyakarta, November 22,2007

Dancing along the road

Along the unsmooth road
Passed the doves in colorful woven garments
The two gay doves were escorted by congregation
On their way home after the holy service

Along the stony road
The classical guitar is played
Joyous songs are sung
For the amusement of the doves

Along the taught road
Four village’s adored daughters
Holding in their hands
Pairs of white handkerchiefs

Along the winding road
They moved in harmony
They moved rhythmically
They moved magnificent

Along the road long
Denizens’ eyes admired the doves
Yet, the adored daughters were
lively admired and praised.

Yogyakarta; November 21, 2007



Looking For You

To the sea bottom we dive
To the mountain top we climb
To the road end we walk
To the sky high we fly
To the wild forest we see


For contentment we desire
For truth we look
For peace we wish
For love we plead
For freedom we fight
Mother land do you have them still?
Dispenses them with us if
You are dear to us still.

Yogyakarta; November 15, 2007

Riit Bot Môra

Sin nak ho onro Kaun Laktaru
Sin nak ho onro Kaes Âna
Sin nâkana ko nak reana bot moro
Sin nâkana ko nak Muit Lolon
Sin nâkana ko nak tai noan

Riit,
Sin nâkana ko humu-humu

Sin takeak ho kanma
Sin â naiti ko
Be, Muiti kok ho matma, mam tiut
Mûneak kok ho nanma, ma mum nau

Rais mâtane naenun.
Tan sâ sin â onro naen?


Pah Yogyakarta; 17-11-2007

Demi Dia, Aku Rela

Lelah tak kau hiraukan
Lautan api kau langkahi
Lapar, haus dan perih kau tahan
Letusan senjata dan bom tak kau takuti
Meski tubuh bermandikan darah, tak kau peduli
Meski sahabat terkapar di tanah terpaksa kau lewati
Demi meraih sebuah mimpi suci
Demi mempertahankan sebuah nama
Demi memperjuangkan bumi pertiwi
Demi kemerdekaan nusa dan bangsa
Demi Dia Indonesia
Kau rela berkorban.
Semua jasa muliamu
Selamanya terkenang
Dalam nurani anak-cucu
Yang bangga menyapamu
KUSUMA BANGSA

Yogyakarta;10 November 2007

Anda Gusar, Aku Bersenda Gurau

Lama sudah wajahnya gusar
Tak ada senyium
Tak ada tawa.
Lama sudah wajah pertiwi gusar
Keawetan parasnya terkuras usang
Disengat terik mentari tak bersahabat
Namun, hari ini
Kala wajah angkasa nampak sendu
dan meneteskan air mata pilu,
Pertiwi bangkit bersorak
Dan pesona wajahnya
Kembali memancarkan keayuan
Lantaran bermandikan air mata surgawi.

Yogyakarta;1 November 2007

Tertusuk Cemeti

Setahun sudah tak dimanjakkan
Sidia yang berseragam putih.
Hari ini di kamar 109,
Si Manja duduk menanti.
Nampaknya begitu kalem
Seakan kuat mendekap fakta
Namun,
Pikirannya kalut
Penuh seribu tanya.
Ada apa denganmu Manja?
Manja lalu angkat bicara.
Mendengarnya, sang tabib
mengganggukan kepala faham
Kemudian,
Simanja merentangkan sekujur tubuh pasrah
Dan...sekejap ia meraung histeris
Auuuuuuuuuuuuuuuu
Ternyata Ia tertusuk cemeti.

Yogyakarta;20 Oktober 2007

Sunday, October 28, 2007

Ikrar Pemuda

Satu Bangsa,Satu Tanah Air,Satu Bahasa
INDONESIA


Dahulu Kaula muda bangsa bersumpah
Hari ini mereka masih bersumpah
Esok?

Semoga pemuda bangsa tetap setia
pada ikrar yang telah diucapkan.



Serba-Serbi Pemuda,6

Identitas Pedagang KL

Namaku Mas
Gelar dibelakang namaku PKL
Pekerjaan utamaku menggoreng nasi
Mobilku sebuah gerobak
Dapur tempat aku memasak sebuah gerobak pula
Klaksonku sepotong kayu dan sebatang bambu pendek
Restoran tempat aku menjual sebuah tempat di bawah langit
Pelangganku adalah penghuni gang-gang yang padat penduduknya
Upahku dibayar para pembeli
Nafkahku cukup untuk menghidupi keluarga dan
untuk meneruskan bisnisku
Hobiku memperagakan kemahiran menggoreng nasi
Mottoku: Takdir perlu diterima dan disyukuri.

Serba-serbi Pemuda 2007,5

Wajah Tatakrama Sekian Pudar

Aku orangnya Individualist
Aku tidak suka repot dengan orang lain
Aku juga tidak suka diriku diurus orang lain
Sejak dahulu memang beginilah diriku,
Kata seorang pemuda bangsa.

Aku orangnya Individualist
Kapan aku keluar masuk kos,
bukan urusanmu.
Apa yang aku kerjakan,
bukan urusanmu,
Siapa yang hendak kupamiti
Saat aku pergi meningalkan kos
dan siapa yang hendak kusalami
saat kembali ke kos,
bukan urusanmu.

Aku orangnya Individualist
Aku calon serjana masa depan
Aku sudah dewasa untuk mengurus diriku
Aku tahu apa yang kau sebut Tatakrama kok!.
Dan,
Kala ia berkata bahwa ia tahu
Apa itu Tatakrama,
Butiran air mata dewi padi
Tumpah membasahi nusa ini.

Serba-Serbi Pemuda 2007,4

Maafkan Daku Bunda

Sore itu pukul 10.28, Hp Muti Bot berdering dan dilayar muncul sederetan nomor yang tidak dikenal. Namun 2 angka depan +60, menunjukan bahwa sipenelepon berada di negeri tetangga Malaysia.
- Hello, mat sore. Ini dengan siapa?
- Ini dengan Mikhael .
- Mikhael.Anda berasal dari mana?
- Dari Noera. Ini saya bicara dengan siapa?
- Dengan Muti Bot. Dari mana atau dari siapa anda mendapatkan nomor ini?
- Oh saya mendapatnya dari teman dan saya hanya mencoba apakah nomor ini masih aktif atau tidak. Nama lengkapmu siapa dan dari mana asalmu. Bisa kenalan ko nona?( Ujar Mikhael seolah memaksa ingin tahu lebih mengenai diri Muti Bot).
Mendengar jawaban ini, Muti langsung menutup ponselnya. Pada awalnya Muti tidak peduli, namun mengingat bahwa si penelepon tadi adalah sedaerah dengannya, maka ia memberanikan diri untuk menulis dan mengirimkan sebuah pesan kepadanya. Beginilah dia menulis.
-Saudara Mikhael Anda dari Noera? Tapi anda telepon dari Malaysia. Anda TKI disana?. Ingat! Sekali anda meninggalkan Indonesia untuk bekerja di nagara lain, Di sana anda adalah seorang duta bangsa.Oleh karena itu bersikaplah lebih sopan saat menelepon orang yang tidak anda kenal. Salam Ibu Muti Bot dari Nia Nuti.
Sesaat sesudah SMS itu terkirim, Mikhaelpun membalasnya. Beginilah Ia menulis:
-Saya minta maaf sebanyak-banyaknya karena tadi say telah bersikap kurang sopan terhadap ibu. Sekali lagi saya mohon maaf.
-Oh anak ini rupanya anak yang baik kata Muti Bot dalam hatinya.
Kini giliran Muti Bot untuk mengetahui lebih mendetail mengenai Identitas Mikhael, dengan motivasi untuk menasihatinya jika ternyata Si Mikhael ini sedaerah dengannya karena banyak pula saudara-saudara Muti Bot yang bekerja disana.Oleh karena itu, Muti Bot menulis lagi:
- Ya. Anda saya maafkan. Semoga anda sukses dengan tugasmu disitu dan jangan lupa membantu keluarga di Kupang ya?oya, kalau boleh tahu, anda berasal dari Noera bagian mana? Saya juga orang
Noera.
Mengetahui bahwa Ibu Muti Bot ini juga orang Noera, maka Mikhael langsung menelepon lagi. Kini ia lebih sopan dalam cara bicaranya dan lebih terbuka untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Muti atas dirinya.Di akhir perbincangan selama kurang lebih 15 menit itu, kedua-duanya berbahagia karena ternyata mereka berasal dari daerah yang sama, bahkan Muti mengenal orang tuanya Mikhael. Mikhael bahkan bahagia dan berterima kasih karena telah mendapatkan masukan-masukan yang meneguhkan dari Muti dan karena dia juga dapat berbincang-bincang dalam bahasa daerah yang jarang dia gunakan sejak dia meninggalkan kampung halamannya Noera 3 tahun lalu.
Muti Bot, sejenak sesuah percakapan itu, ia menarik nafas legah dan bangga kerena masih ada anak bangsa yang tahu meminta maaf dan berterima kasih kepada sesama.

Serba-Serbi Pemuda 2007,3

Nyanyian pedagang KL

Dari subuh hingga petang
Bersemangat mendorong mobil
Menyelusuri setiap lorong langit
Tempat aku mengais rejeki.

Meski sekujur tubuh dibasahi keringat
Lelah tak terkeluhkan
Senyium ceriah menghiasi wajah
Kala tugas diemban.

Takdir perlu diterima
Takdir jika disyukuri
Maka semangat terpacu
Dalam menatap masa depan.

Reff:
Bangga aku disapa pedagang KL
Bangga aku melayani sesama.
Syukur aku mendapat rejeki
Dari tetesan keringat sendiri.

Serba- Serbi Pemuda 2007,2

Masih Adakah Toleransi Di Negeri Ini?

Saat itu bulan puasa.
Kala subuh datang menyapa,
Beduk mesjid berbunyi,dan
Terdengar pula bunyi suara
Yang berseru:
Sahur yo sahur
dan
Mereka yang menjalankan puasa
Bangun untuk memulai sahur paginya.
Sahur itu diselingi dengan bincang subuh yang ramai.
dan
Sebulan penuh
Insan yang tak menjalankan puasa
Seolah diwajibkan untuk menikmati
Serba-serbi kehidupan subuh
Karena
Pemuda jaman ini
Nampaknya telah lupa akan apa
Yang mereka sebut
TOLERANSI.

Serba-serbi Pemuda 2007, 1

Generasi Yang Berpotensi

Hari itu minggu pertama bulan Oktober.
Di radio Sesando 90.3 Fm,
Derdengar suara seorang bocah
Menelepon pengacara.
- Hello ini dengan adik siapa?
- Dengan adik Nina
- De Nina keals berapa?
- Kelas I SD
- Ade mau nyanyi atau mau minta lagu?
- Mau nyanyi.
- Mau nyanyi lagu apa?
- Mau nyanyi lagu kasih yesus.
- Baiklah de, silahkan nyanyi.
Si cilikpun mulai melantunkan suaranya dengan begitu merdu dan bersemangat
hinga siapapun yang mendengarnya tak mungkin mengira bahwa Si cilik ini masih sangat muda usianya.Sesudah Nina selesai bernyayi, penyiar lalu memberikan pujian dan terus bertanya:
-Wah de Nina, suaramu begitu merdu.Sudah lama bernyanyi?
-Sudah.Sejak Nina berumur 3 tahun. Jawabnya penuhenyakinkan seyogyanya seorang
yang sudah terbiasa diwawancarai.
- Apakah De sering mengikuti lomba menyanyai?
- Ya sering sekali.
- Pernah mendapat piala?
- Ya.
- Sudah berapa piala yang sudah de Nina peroleh?
- 30 piala.
- Wah hebat sekali ade.Baiklah!
Semoga de Nina selalu diberkati Tuhan dan sukses dalam hidup.
Mendengar wawancara diatas, pendengar yang mendengar wawancara itupun turuf kagum atas apa yang dimiliki Si cilik Nina. Maka ia berkata dihatinya:Syukurlah! Masih ada anak bangsa yang berpotensi. Semoga talenta yang dimiliki terus dikembangkan untuk kemuliaan Tuhan, kemakmuran bangsa dan kebahagiaan masyarakat bangsa.

Thursday, September 27, 2007

Istana Pintar

Kau menawarkan kesejukan,
Kau menawarkan kedamaian,
Kau menawarkan keheningan,
Kau menawarkan kearifan,
Kau menawarkan kebajikan,
Kau menawkan kreatifitas,
Kau menawarkan kecerdasan,
Kau menawarkan ketrampilan,
Semua ini kau tawarkan
Karena kau me miliknya.
Andai saja
dia,aku dan mereka
mau menjadi ratu dan raja
penghunimu
maka jayalah
kerajaan ini.

Yogyakarta
Perpus Mrican
24 September2007

Pemburu harta di bis kota

Kau,
berperawakan seorang pengusaha
berpenampilan seorang artis
berposturkan seorang atlit,

namun
penampilanmu itu ternyata
menipu mata.
Kau,
meski jantungmu masih berdetak,
meski darahmu masih mengalir,
meski lenganmu masih kau ayunkan,
meski kakimu masih kau langkahkan,
meski kata-kata masih kau ucapkan,
namun
Kehadiranmu sungguh tak diiginkan
karena kau adalah pemburu harta karun
para penumpang bis
yang tak bernurani,
Yang tak bermartabat,
Yang tak berguna bagi bangsa.

(Catatan penumpang bis jalur 7 )
Yogyakarta
23 September 2007

E Le Lele

Tak tadadak
Tak tadadak...
Begitulah bunyi
Gemuruh gendang.
Ding
dingdin ding
dingdingding...
Begitulah bunyi melodi biola.
Tiding
didingding
tidingdiding...
Begitulah irama giring-giring.
Sol sol do do lasol mire do
Do dodo re domi remi....
Begitulah bunyi mada orgel.
E le le le lele
Trima syukur kami
Syukur bagi-Mu,
Begitulah lirik lagu
daerah Nusa Cendana.
Sebuah
perpaduan harmoni antara
musik, lagu, dan tarian meriah.
Persembahan Vocason Sonora
kepada
Yang Berbahagia dan segenap pemirsa

Yogyakarta
22 September 2007

HALON

Haek ubar nanesö matna,
Hâ lakan ahaka fain manuáka
Nao uhena hai paha, fain tais pain
Be nabar nanesö matna,
Bê –Nâi sin
Tiut natuin ka.
Sin poh a bot ka;
Sin fu a fafufka
Neken halon:
Ė Ama Usneon Maneakta
Mûturu Ho rannan masianâ
na Ho ahna.
Bê –Nâi sin at masokna
nok Reö sin hot-hot,
Mnao mok he ahna he ûpa,
mam tawa ha aona mina.
Rais mâtane sa â nena,
Umnaua;
Ka upnika fa.
Nâ úmeapna nabar a nanka
Tan sian tulunka ha umnau
A úka nok a páha.

Pah Yogya,
Neon Botenin Funan Hain
Toan Nifun Nua Hiut.
Aruanta
Yovita Un Bria

AN ALIEN

Say noting that you know him.
Suppose he himself does not endeavor
to be aquented whit himself,
Assume that he is an alien for himself,
Then who you are for him?
You are indeed
an absolute
alien.


Narada 8A ( 9 )
September 16, 2007

Monday, September 17, 2007

Perih Telah berlalu

Hari ini,
yah! tepatnya hari ini
Sebulan sudah,
Kejadian naas itu terjadi.
Tak ada lagi goresan merah di dahi
bagai bekas kerokan.
Perih di sekujur tubuh tak lagi terasa
Namun bayangan akan apa yang pernah terjadi
terus dan terus datang menyapa
dan
kenangan akan pengalaman nan perih
di Hari Ulang Tahun Negeri Elok ini
Untuk selamanya
bersemayan di hati.

Yogyakarta;17 September 2007.

Thursday, September 6, 2007

Heartless in 2007-08-17

4.25:51
was
The time when
Two innocent friends who
traveled the road long,
seeking for a never-ending wisdom
were unexpectedly smacked.

Their journey was blocked,
They were harmed,
They were injured,
by a heartless creature.


No aesthetic word of apology
was expressed.
Whereas, not long before
She just proclaimed:
“Free”
“Live Indonesia”


Yogyakarta
September 6,2007

Monday, August 20, 2007

Kau Dikenang Selamanya

17 Agustus.
Sejak tahun 1945 hingga detik ini,
kau menjadi hari bersejarah
Yang abadi di kenang anak bangsa ini.
Bukan itu saja, namun
kau telah tercatat dalam ensiklopedi dunia.
Karena kau,
Penghuni dunia menatap
Negeri ini,
Bangsa ini,
INDONESIA.
Menghormati
Panji Merah-Putih
Memuji
Dasar Negara-Pancasila.
Mempelajri
Bahasa Indonesia.
Hadirmu membuat
Lapangan-lapangan dibanjiri
barisan para pewaris takhta kemerdekaan negeri ini
yang tampil anggun
dengan gaun-gaun indah nasional, melantunkan
Himne Indonesia Raya,
berdiri tegak menatap angkasa,mengangkat tangan,
dan menghormati panji kemenangan,
Sembari berucap:
Merdeka!
dan berbisik di hati
penuh harapan:
DAMAI NEGERIKU dan SEJAHTERA BANGSAKU.

Gejayan-Narada 8A
Yogyakarta
17 Agustus 2007

Imaginations

Store them not in the princely home
for when they enjoy living in such splendor
and comfortable palace,
they are not willing to leave it.

Open the mansion’s gate,
let them
breath the freedom and
travel freely
to reach hearts’goals.

Carry them out
into splendid deeds
for
the virtue of mankind
or else
They will remain mare
Thoughts

Jogyakarta
August 20,2007

Tuesday, July 24, 2007

Merah Semangatmu&Putih Cintamu

Sang perkasa
Berjubahkan semagat.
Seiring munculnya pesona
surya pagi yang ramah menyapa,
Ia bangkit menyuarakan secerah harapan:
Wahai tunas muda penggerak roda hidup,

Mari!
Tanggalkan yang kusam,
yang kelam,dan yang rapuh.
Mari!
Raih dan kenakan yang baru, yang indah,
dan yang lembut selembut sutra.
Mari!
Tegoklah kedalam dan dengarlah
Suara pejuang tanah ini dahulu.
Mari!
Tolehlah kebelakang,
Lihatlah apa juang mereka.
Demi sebauh nama: Indonesia,
darah merah dibiarkan menetes.

Ya!
Kau bangga akan nama ini,
Kau bangga hidup di tanah ini,
Kau bangga menjadi anak negeri ini.
Tapi,
Apa sumbanganmu
Tuk’ pertahankan nama dan tanah ini?

Ayo, Mari Bangkit!
Sumbangkan Merah semangatmu
Serah putih cintamu,
Tuk’majunya nusa ini,
Tuk’makmurnya penghuni pertiwi ini.

Jogyakarta, 20 Mei 2007
Hari Kebangkitan Nasional.

Thursday, July 19, 2007

The Goddess of Rice

In countless of time
Here, in the central of the earth
She stands firmly
So astonishing
So beautiful
So powerful
And magnificent indeed.

Her open hands
Are always ready to cuddle.
Her secure womb is ready to give birth.
Her offspring feel secure when sit on her lap.
Yes...Yes...Yes
They are absolutely proud of her.

Previously, from time to time
Songs of praise were sung before her dignity,
Stories of her motherly love
Were broadcasted throughout entire land,
For she was the most highly adored Queen.

Currently,
The Queen is still presence before her throne,
Yet, she seems to be ignored
Her genuine love is exploited
Her splendors are annihilated
Her beloveds disregarded her.

The tears of sorrow droop
From the discarded souls
Wanting for her warm hug,
Longing for her secure womb to conceive new life,
But will it be possible?
For the womb is fully occupied by the prodigal sons

Even if life keeps on changing,
Her name will be forever exalted
Her presence will be continuously honored
For she was, she is and she will be always
The most adorable
Goddess of Rice

Jogyakarta, February
21, 2007.

Wednesday, July 4, 2007

The Praiseworthy Companion

Like the passing wind it comes
When it comes and goes
No one can tell
Like the rising sun were its presence
So bright and so warm.


With open hands and open heart
welcome it.
For it is such a precious gift
Send from heaven above.


Enter the friendship door greatfully
Journey it honestly and faithfully
For this precious moment is a unique one
Only for you both.


There will be a moment
When a new gift will be sent
To each one of you.
Claps the new one ,
Forget not the previous friends,
and feel sad not to say good bye
to the old one.

Just be thankful
for you are an aristocrate
of the friendship’s realm.


The friend has to live a new life
And so have you
Yet the living memory
Of the marvel companionship
Will be evermore abide in both souls.


Jogyakarta; June 28, 2007
World's friendship day.

Tuesday, June 26, 2007

Bukannya Lupa Berkokok


Ayam yang terlelap dalam tidurnya
Seketika terhentak bangun
Hiruk-pikuk hendak terbang
Namun tak tahu kemana hendak mengepak sayap.
Makhluk pagi yang masih bermimpi
Walau tak ingin,
Harus dan harus melekkan matanya.
Terhentak oleh bidikan ketapel,
Ia berlari mencari perlindungan.

Bidikan itu cuman sesaat
Namun pohon tempat ia bertengker
Terguncang dan tumbang,
Berserakan tak beraturan.

Di atas tanah, di antara dedaunan dan ranting-ranting
ia tergeletak, tercabik-cabik tak berdaya, namun masih bernafas.
Dibalik reruntuhan, Ia mencoba mengais-ngais
Mengumpulkan tenaga untuk terbang lagi.

Tak percaya akan pandangan matanya,
Ia mencoba mengepakkan sayapnya
Menggunakan sisa kekuatannya
Untuk terbang ke angkasa

Bukannya lupa berkokok
Namun bidikan dahsyat itu
Telah mengubah cirinya.
Alunan suaranya yang merdu di pagi buta,
Kini serupa isak tangis histeris.

Bukan saja kandang kesayangannya
Bukan saja sahabat-sahabat dekatnya
Bukan saja anak-anak kecintaannya
Namun semua, segala yang ia punya
Hanyut, lenyap tertelan badai.
Bulu sayapnya satu persatu
Terlepas meninggalkan tubuhnya
Parasnya yang gagah kini memilukan
Kedua sayapnya yang dulu kekar
Kini tak terandalkan lagi.

Yogyakarta, 27 Mei 2006

Wednesday, June 20, 2007

Mama

oleh
Maxi,Vita,Pat,Deli,Uris,Rita dan Densi Un Bria

Ketika memandang potretmu
Sejuta kenangan manis kembali mengalir
Lalu bersama Khalil Gibran berujarlah kami:
“Ibu adalah segala-galanya”.

Mama, ketika kami sedih; engkau datang menghibur
Ketika kami lelah, engkau datang menguatkan
dan ketika kami kehilangan asa,engkau datang memberi.

Engkau tumpuan harapan kami dalam derita
dan engkau kuatkan kami dalam kelelahan.
Engkau sumber cinta kasih, belas kasih dan ampunan.

Terima kasih Mama,
kami bangga dan bahagia menyapamu Mama.
Bahkan Dellyanipun telah merasakan belaian kasihmu.
Meski ia telah pergi dari sisi kita untuk selamanya.

Mama, kasihmu mahal harganya,
Kami tak sanggup membalasnya.
Semoga kasih yang telah Mamagandakan itu
Memberi kebahagiaan kini dan kelak.

Manlea, Medio Februari 1992.




Saturday, June 16, 2007

Wanita Pahlawan Cinta

Dari balik perbukitan hijau
Mengalirlah air sungai yang tenang
Kejernihan warnanya memikat mata memandang
Menggerakkan tangan menimba
Kesejukan rasanya memuaskan insan dahaga.
Laksana aliran sungai tenang
Engkau tampil penuh lembut, hai Wanita
Ketulusan cintamu memberi pelabuhan yang nyaman
Bagi insan pengembara pencari cinta
Kebeningan dan kelembutan hatimu melunakkan hati batu
Kebesaran jiwamu memberi gairah baru
Bagi mereka yang lelah melangkah
Ayun langkah kakimu yang kokoh
Menyelusuri lorong-lorong kehidupan
Mencari yang tersesat

Wanita, kehadiran dan perilakumu telah bersaksi
Tentang juang pahlawan tak kenal lelah
Tentang memberi tanpa pamrih
Tentang mengasihi tanpa menghitung jasa
Nama dan jasamu telah terpatri
Dalam diri semua yang terlahir karena adamu
Bahwa engkau sesungguhnya
Adalah pahlawan pejuang hidup

Pahlawan hidup melangkah maju seiring waktu
Tuk berbagi hidup, berbagi kasih
Terkadang ada resah menghadang jalan
Tapi ada harapan yang tak bakal pupus
Karena engkau figur pejuang
Dan berkat bakal kau bagi
Karena Pahlawan Sejati Utama
Terus hidup dan berkarya dalam dirimu

Halilulik; 7 November 1998


Let the Light Shines

By
Yohanes Manhitu&Yovita Un Bria

The day will come
And you will realize
That life is just a point
Where you stop to drink.

Yes it might be right,yet...
It has to be lived through.
When it ends,
The time is unpredicted.

So as the stars live life
Allow them to be bright.
Let them shine
For the living earth
Needs the very light

In darkness of earth
You’re the torch
Bringing light
To life everlasting.

When the moon
And the stars sleep
Tell me what one does
To help souls see light?

No need to worry about the light
For it always shines there
in the depth of the souls
Flaming brightly forever
.

Jogyakarta; March 2,2007

The Dove's Trip

The trip is made
Doves,
Sitting on the fast running horse
Travel the road long

Loughter flows
Smiles unhidden
Joy and happines meet
On the back of the horse

Doves; though different,
They have something in common
Traveling the road of life
And journying it togerther in harmony
For never ending happiness
.


Jogyakarta March 13,2007
By Yovita Un Bria

Friday, June 15, 2007

Satu Kata Saja

Seulas senyum tulus di wajah,
Sederet kata terucap di bibir,
Sebuah ekspresi gerak tubuh,
mengandung arti,
menyampaikan pesan
Yang Anda, dia, saya, kita dan mereka
Sepakati bahwa itu
KOMUNIKASI.

Yogyakarta, 20 Mei 2007
Hari Komunikasi Sedunia


ONLY A WORD

A smile in the face
Word spoken from the mouth
An expression of the body
Has meaning
Conveys message
That You, H e,She, Me,They and We
are agree that
it Is
COMMUNICATION.

Jogyakarta, May 20,2007 ( 06.30 )
World Communication Day

Tuesday, June 12, 2007

The Rose to Embrace

By. Yovita Un Bria

Far beyond the destiny
I search
To the deepest level of the sea
I dive
Through the never ending road
I walk
Up to the mountain top
I climb

But
It is so exhausted to move on.
ROSE!,
rose !,
roses!
Embrace me if You dare.

Jogyakarta; April 4 2007

SI GARUDA YANG MALANG


Karya Yovita Un Bria

Garuda sang burung tersohor,
Seiring munculnya mentari pagi,
Terbang laju mengepak-ngepakkan kedua sayapnya
Menjelajahi langit tak berujung

Tak kenal lelah
Ia terus melintasi angkasa
Dari utara ke selatan
Dari timur ke barat

Si pemberani berkata girang
Ah, warna langit begitu cerah
Kesempatan indah ini tak boleh kuabaikan
Namun,kemana arah tujuanku?

Oh, aku tahu.
Katanya sembari mengepak-ngepakkan sayap
Menuju ke Timur.
Yah! di sana
Ada tempat nyaman buat landasanku

Dari jauh garuda menatap hemparan rerumputan hijau,
Landasan nyaman yang ia tuju.
Kini ia siap mendara. Namun tiba-tiba,
Tubuhnya tergoncang kehilangan keseimbangan.

Ia lalu jatuh terhampar di rerumputan hijau
Badannya pecah berkeping- keping,
Sekujur tubuhnya berselimutkan asap,
Bermandikan darah and api.

Tatkala menatap nasib sang tersohor,
Makhluk pemikir yang tak percaya akan kejadian naas ini,
Menelan perih, berdesah pilu
Sembari berucap: Mengapa Garuda?
Oh garuda yang malang,
Semoga kemalangan ini
Tak menimpamu lagi di hari esok.

Yogyakarta 7 Maret 2007

DAMAI


Karya Yovita Un Bria

Damai,
Kata, rangkaian lima huruf
Mudah diucapkan bibir
pencipta melodi di telinga

Damai,
Kau kandung seribu makna
ungkapan sejuta jiwa
sang insan pencari

Damai,
Penjanji harapan
Pengundang aksi
para musafir pencintamu

Damai,
Hargamu bermiliaran rupiah
Penangkal teror berkepanjangan
Pejuangmu dielu-elukan dunia

Damai,
Dicari penghuni bayangan surga
Yang hidupi alam pertempuran,
Yang jalani lorong kebisingan

Damai,
Hanya karenamu
gelora gelombang lautan merah,
pecah penuhi angkasa, samudera dan buana

Damai, oh Damai,
Andaikan saja dirimu mudah dirangkul,
andaikan saja nilaimu dipahami,
tak bakal kau diterlantarkan

Yogyakarta, 8 April 2007

DREAM

By Yovita Un Bria

I have it in my mind.
I have it in my heart.
Though words unspoken,
they dance in my mind and my heart.

When the right time comes,
they appear to be accepted.
A wise decision is made.
Then...action takes place.

The moment comes,
the dream sprouts
showing its beastiful flowers.
And ...magnificent fruits
in the tree are ready to harvest

The tree remains still and strong
As the season are passing by.
It contributes to the earth and mankind,
rooted deeply there, in the heart,
To remaind the owner of her dream.

Jogyakarta, February 13,2007 (18:41)


Sueño

Lo tengo aquí en mi mente.
Lo tengo también en mi corazón.
Aunque las palabras son tácitas,
bailan en mi mente y en mi corazón.

Cuando viene la hora exacta,
aparecen para ser admitidas.
se toma una decisión sabia.
Luego ...la acción tiene lugar.

Liega el momento ,
el sueño brota
y demuestra sus hermos flores.
y... sus frutas magnίficas
en el árbol están listas para cosechar.

El árbol permanece quite y fuerte
mientras que pasan las estaciones.
contribuye a la tierra y a la humanidad,
muy arrigadas allí, en el corazón,
para recordar a la dueña a su sueño.

Jogyakarta,13 de febrero de 2007 ( 18:41)
Traducción al español por Yohanes Manhitu ( 17-02-2007 )



REVO

Mi havas ĝin en la menso.
Mi havas ĝin ankaŭ en la koro.
Kvankam la vortoj estas neparolataj,
ili ancas en la menso kaj en la koro.

Kiam venas ekzakta horo,
ili aperas por esti akceptataj.
Saĝan decidon estas farita.
Tiam... akazas agado.

Venas la momento,
la revo elkreskas
montranta ĝiajn belajn florojn.
Kaj... ĝiaj belegaj frktoj
en la arbo estas pretaj por rikolti.

La arbo restas senmova kaj forta
kiel la zesonoj estas patansaj.
Ği konribuas al la tero kaj al la homaro,
enradikas profunde tie, en la koro,
por memorigi la proprietulinon de ŝia revo.

Jogyakarta,13-II-2007
Esperantigo: Yohanes Manhitu ( 17/II/2007)



RÊVE


Par Yovita Un Bria

Je l’ai ici dans mon esprit
Je l’ai aussi à mon coeur.
Bien que les mots soient inexprimés,
ils dansent dans mon espirit et à mon coeur.

Quand le bon moment vient,
ils apparaissent d’être acceptés.
Une décision sage est prise.
Alors...l’action a lieu.

Le moment arrive,
Le rêve pousse
et montre ses belles fleurs.
Et...ses fruits magnifiques
dans l’arbre sont prêts á récolter.

L’arbre reste toujours et fort
pendant que les saisons passent.
Il contribue à la terre et à l’humanité,
bien enraciné là, au coeur,
pour rappeler la propriétaire son rêve.

Jogyakarta, le 13 février 2007 (18: 41)
Traduction en français par Yohanes Manhitu (17-02-2007)


MEHI

Ha'u soi nia iha ha'u-nia neon.
Ha'u soi nia iha ha'u-nia laran.
Maski liafuan sira la dehan-sai,
Sira dansa iha ha'u-nia neon no laran.

Bainhira tempu loos to’o mai,
sira hatudu an hodi naksimu.
Dezisaun ida hakalo.
Depois...asaun akontese.

Momentu to’o mai,
mehi nadikin
hatudu ninia ai-funan furak sira.
No... ninia fuan boboot sira
iha ai leten prontu ona atu ku’u.

Ai ida ne'e hela nonook no biit
bainhira udan no manas liu
Nia fó ba raiklaran no ema-moris,
abut naruk iha-ne'bá, iha laran,
hodi fó-hanoin na'in kona-ba ninia mehi.

Jogyakarta, loron 13 fevereiru 2007
Tradusaun ba tetun hosi Yohanes Manhitu ( 17-02 2007)



MNEA

Aruanta: Yovita Un Bria.

A mui an a roenka
A mui an a nanka.
Rasi katateka, be...
Sin biur nabar a roenka nok a nanka.

Tea oras mriana neam,
sin natúrok han siam sin.
Na feak rasi,
In man moe natuina.

Oarsa neamen,
mnea natuan.
Napoin in hausufu mriana,
nok in haufua amianta,
nabar háua ha sa seu.

Háua moen namnaun man mataen
sa mansa nok uarna nbór,
in fe na paha nok na atoen pahatnána,
na΄bá fin, nabar nanka,
Ha namnaut in tuana na in mnea.

Jogyakarta, neon boeas teunin,funan nuain,2007.

This poem is written in the Kusa-Manlea dialect of the Dawan language.